Wawali Kota Kupang, Serena Francis dalam siniar Konvergensi bersama CEO Investortrust, Primus Dorimulu, di Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Metronewsntt.com, Jakarta----Menjadi tuan rumah ajang olahraga nasional bukan sekadar soal pertandingan di arena, melainkan momentum emas untuk mentransformasi wajah kota. Semangat inilah yang tengah membara di ibu kota Nusa Tenggara Timur. Pemerintah Kota Kupang resmi mulai merancang ekosistem kota secara menyeluruh guna menyambut Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII 2028.
Tidak hanya berfokus pada pembenahan fasilitas olahraga dan akomodasi berstandar tinggi, Pemkot Kupang juga mengerahkan potensi UMKM lokal agar siap meraup berkah ekonomi dari datangnya ribuan atlet dan wisatawan.
Wakil Wali Kota Kupang, Serena Cosgrova Francis, menegaskan bahwa PON XXII adalah panggung besar untuk mengembangkan sektor sport tourism sekaligus menggerakkan roda ekonomi kerakyatan.
"Kota Kupang sangat antusias. Kami sedang mempersiapkan fasilitas, infrastruktur, lapangan olahraga, dan bagaimana nantinya Kota Kupang bisa menjadi tuan rumah yang nyaman," ungkap Serena dalam siniar Konvergensi bersama CEO Investortrust, Primus Dorimulu, di Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Tantangan terbesar sebagai tuan rumah tentu memastikan para tamu—baik atlet maupun pelancong mendapatkan pengalaman terbaik. Karena itu, persiapan matang dilakukan dari hulu ke hilir. Selain membenahi venue pertandingan, Pemkot Kupang serius menata sektor penginapan, mulai dari hotel hingga homestay, agar memenuhi standar pelayanan yang prima. "Homestay sudah banyak dan mulai kami siapkan SOP-nya supaya benar-benar menjadi tempat yang nyaman bagi para atlet dan wisatawan," tambahnya.
PON 2028 dipastikan menjadi berkah tersendiri bagi pelaku usaha lokal. Melalui wadah SABOAK (Sunday Market buat Orang Kupang), ekosistem UMKM telah digerakkan secara masif dengan melibatkan sekitar 500 komunitas dan pelaku usaha. Hasilnya pun tidak main-main.
Aktivitas pasar rakyat ini sukses mencatatkan perputaran ekonomi hingga Rp6,2 miliar dalam setahun, dengan produk kuliner, jajanan pasar, dan pangan lokal sebagai primadonanya. Tak berhenti di pasar konvensional, penguatan UMKM juga merambah dunia digital lewat Indonesia Open Network (ION).
Jaringan perdagangan terbuka ini disiapkan untuk memperluas akses pasar produk lokal, termasuk kerajinan tangan dan kain tenun khas NTT yang kini kian inovatif—disulap menjadi pakaian modern hingga fesyen siap pakai yang mulai dilirik desainer luar daerah.
Belum lengkap rasanya berkunjung ke Kupang tanpa menikmati kelezatan kulinernya. Serena turut memperkenalkan berbagai ikon kuliner lezat yang siap memanjakan lidah para wisatawan, mulai dari se’i yang legendaris, ikan kuah asam yang segar, hingga jagung bose. Sebagai kota provinsi sekaligus pusat jasa, Kupang diproyeksikan tidak hanya menjadi tempat bertanding, tetapi juga titik transit strategis. Para tamu usai urusan administrasi dapat dengan mudah menjelajahi berbagai destinasi wisata eksotis di sekitar daratan Timor.
Melalui persiapan yang matang dan kolaborasi erat antara pemerintah, masyarakat, serta pelaku usaha, Kota Kupang siap membuktikan kapasitasnya di kancah nasional. “Ayo bersama-sama kita jadikan Kota Kupang sebagai tempat yang nyaman untuk sport tourism,” pungkas Serena penuh optimisme.(mnt)