WhatsApp Facebook Google+ Twitter BBM

SIRAMAN ROHANI: Pergilah, Dia Mengutus

Metronttdewa.com 15-08-2026 || 18:24:29

Al Hayon

Oleh: Al Hayon Vinsens

Metronewsntt.com---Membaca judul Siraman Rohani di atas – “Pergilah, Dia mengutus”, sepintas terlintas dalam benak kita adalah kesadaran ini, “kita diutus”.  Kesadarn ini merupakan perintah yang tertera dalam Bibel yang ditulis Markus 16:14-20, pada perikop yang berjudul, “Yesus menampakan diri dan mengutus murid-murtid-Nya”. 

Kata pertama yang disampaikan Yesus dalam amanat perutusan adalah: “Pergilah.” Dengan mengatakan demikian, tersurat secara jelas bahwa Yesus tidak menghendaki seorang muridpun untuk terus tinggal dan daim dalam kenyamanan kelompok mereka. 

Ia mengutus mereka “ke luar” atau “pergi”. “Pergi”, berarti tidak harus tetap, bergeser, pindah atau “meninggalkan kenyamanan”, suatu pergerakan yang dinamik sifatnya. “Pergi” berarti berjumpa dengan apa dan siapa. Terutama perjumpa dengan orang lain. 
“Pergi” berarti kesediaan menerima resiko dan menghadapi tantangan. “Pergi” berarti membawa sesuatu yang telah kita terima kepada orang lain. Para murid telah berjalan bersama Yesus. Mereka mendengarkan pengajaran-Nya, menyaksikan karya-Nya, mengalami sukses dan kegagalan, bahkan sempat meninggalkan-Nya ketika Ia menderita. 

Itu realitanya, namun, Yesus yang bangkit tetap mempercayai mereka. Ia mengutus mereka. Hal ini menunjukkan bahwa perutusan tidak hanya diberikan kepada orang yang sempurna. Perutusan diberikan kepada orang-orang yang bersedia dibentuk dan menyerahkan dirinya kepada Tuhan, perutusan untuk dia yang percaya dan beriman.

Jika ketika menyatakan diri sebagai orang beriman dan percaya, saat itu adalah “waktunya perutusan”. Kita dalam konteks demikian tidak harus menunggu menjadi sempurna untuk diutus, untuk menjalani pangilan, singkat kata untuk melayani. 
Karena keharusan demikian maka Tindakan responsif dari kita adalah harus terus-menerus membiarkan Yesus yang adalah Tuhan dan Kristus membentuk, memurnikan, dan memperbarui kita agar pelayanan kita semakin sesuai dengan kehendak Allah. 

Menjadi jelas bagi kita bahwa “medan Hidup, Kerja, dan Ada kita” merupakan bagian dari proses pemurnian perutusan kita. Jawaban “Ya” dan “Siap kita” diawal pengakuan iman baik secara personal dan komunal  adalah titik keberangkatan. 

Keputusan yang telah kita ambil, Ketetapan kita tidak boleh hanya diam sebagai arsip dokumen, Program kerja baik personal dan komunal tidak boleh hanya menjadi daftar rencana. Visi dan misi kita sebagai yang terpanggil tidak boleh hanya menjadi catatan lepas. Semuanya harus berubah menjadi tindakan. Tindakan itu merujuk pada perwujudan Hukum Kasih, Pertobatan dan Syukur. 

Inilah arti aksi “pergilah”. Kita diutus dan hadir dalam keluarga, sekolah, kampus, tempat kerja, pada lingkup sosial gereja, dan masyarakat, dan kehidupan berbangsa. Kita dipanggil menjadi pribadi yang dapat dikenali dari buah kehidupan, berupa: jujur, disiplin, rendah hati, mampu mengendalikan diri, berani membela kebenaran, menghormati sesama, setia kepada Gereja, dan bersedia melayani. 

Karena itu pewartaan oleh karena perutusan kita tidak selalu dilakukan melalui omon-omon saja, namun tampil nyata pada  “Cara hidup” yang benar. Ini  adalah bentuk pewartaan. Ada Kejujuran di tempat kerja adalah pewartaan. Kesediaan mengampuni adalah pewartaan. Membantu orang kecil adalah pewartaan. Menjaga persaudaraan, kesatuan dan keutuhan adalah pewartaan. 


Menolak korupsi dan ketidakjujuran adalah pewartaan. Mendampingi Orang muda dan anak-anak  serta para sepuh adalah pewartaan. Menghormati orang yang berbeda adalah pewartaan. Menggunakan kemampuan dengan penuh pengendalian diri adalah pewartaan. Melayani Gereja dengan setia adalah pewartaan. Ini adalah militansi ekspresi iman yang harus selalu dipahami dalam terang Kristus. 

Militan bukan berarti kasar. Militan bukan berarti memaksakan kehendak. Militan bukan berarti merasa kelompok sendiri paling benar. Militan bukan berarti mencari lawan. Militan dalam pengabdian berarti teguh dan tidak mudah menyerah dalam melakukan kebaikan. 
Seorang yang militan dalam pengabdian tetap melayani ketika tidak dipuji. Ia tetap hadir ketika tugas terasa berat. Ia tetap jujur ketika ketidakjujuran tampak lebih mudah.

 Ia tetap menjaga persaudaraan ketika terdapat perbedaan. Ia tetap menaati konstitusi meskipun kepentingan pribadinya tidak terpenuhi. Ia tetap setia kepada Gereja ketika menghadapi tantangan. Ia bekerja bukan untuk memperoleh pengakuan, tetapi karena menyadari bahwa pelayanan adalah panggilan dan perutusannya. 

Dalam Cahaya Bible dari Markus ini, kita akhirnya menjadi sadar bahwa “yang dipanggil dan diutus, tidak berjalan dan bekerja sendiri karena “Tuhan turut bekerja bersama mereka yang dipanggil dan diutus”. Inilah sumber keberanian kita dalam menjalani panggilan dan perutusan. 

Hal ini menjadi nyata karena kita mendengarkan dan mentaati Yesus yang bersabda: “Tinggallah di dalam Aku,” dan perutusan-Nya: “Pergilah ke seluruh dunia.” Keduanya tidak bertentangan. Justru karena kita tinggal di dalam Kristus, kita dapat pergi. Justru karena kita berakar dalam Dia, kita dapat menghasilkan buah. Justru karena kita menerima kasih-Nya, kita dapat membawa kasih itu kepada sesama. Mungkinkah semua ini dapat kita jalankan sebagai yang dipanggil dan diutus oleh DIA Sang Kehidupan untuk kehidupan kita ini ?


Baca juga :

Related Post