Oleh: Al Hayon
Metronewsntt.com---Salam sejahtera dan welcome di hari baru yang Tuhan anugerahkan untuk setiap umat-Nya. Atas anugerah hari baru ini maka syukur menjadi sikap utama hidup para percaya dan beriman. Mari, bersyukurlah kepada Tuhan sebab IA baik, kekal abadi kasih setia-Nya.
Kisah bibel (Matius 9:32-38), menjadi rujukkan sikap laku hidup para percaya dan beriman, berkisah tentang “Orang bisu disembuhkan dan Belas kasih Yesus terhadap orang banyak”. Sikap belas kasih kepada “orang banyak” inilah, menjadi dasar Sang Tokoh Kisah memanggil pengikut-pengikut-Nya untuk siap bekerja melayani orang banyak itu.
Penegasan atas point ini tertera jelas pada ayat bible yang ke 37-38, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."
“Mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian yang banyak” ini menjadi “Dasar panggilan Sang Tokoh Kisah”. “Tuaian yang banyak” itu membutuhkan pekerja-pekerja handal yang berhati penuh belas kasih, dan belas kasih adalah sikap dasar Sang Tokoh kisah.
“Tuaian yang banyak adalah perumpaan untuk “Orang banyak yang “berkebutuhan khusus”. Mereka dalam seluruh kisah ter-persona dalam pribadi yang bisu-tuli. Mereka harus dipulihkan lewat pelayanan premium/ premium service.
Premium service ini berkaitan erat dengan soal hati yang siap dan fokus melayani. Lantaran situasi bisu-tuli telah menjelajahi dan menguasai tidak hanya pada Tingkat personal tetapi merambat ke tingkat komunal, masyarakat umum di hari-hari ini. Hari-hari di mana manusia telah mengabaikan banyak nilai belas kasih oleh sikap invidualisme, materialisme dan hedonisme. Hidup yang tidak peduli akan kebaikan dan kebenaran.
Pertanyaan reflektifnya, “Siapa yang harus bekerja untuk keadaan di mana penghuni-penghuni dunia yang sudah banyak tercemar ini?” Anda dan saya? Ya, anda dan saya harus siap bekerja. Bekerjalah pada bidang tugas masing-masing untuk memulihkan orang-orang yang “berkebutuhan khusus’ yang ada di sana. Bawalah hati yang rela melayani dan harus kuat bertahan dalam penderitaan karena anda dan saya akan ditolak.
Anda dan saya ditolak karena mengganggu kesenangan, keadaan nyaman mereka (comfort zone) yang telah dikuasai kesenangan dunia. Apalah arti kebaikan, kebenaran dan keselamatan bagi mereka yang ingin dilayani dan diselamatkan? Mereka berpaham “Carpe Diem” (nikmati hari ini), puaskan diri anda dengan segala kesenangan duniawi. We are in the land, please strugle for your own life, to gratify your flesh (untuk kesenangan daging).
Dalam bible, situasi dan kondisi kelompok “carpe diemis” ini menggetarkan hati Sang Tokoh Kisa. IA berbelas kasih kepada mereka yang aplikasi hidupnya menyimpang dari jalur hidup yang benar. Praksis hidup mereka bias. Mereka seperti tanaman liar di kebun anggur. Dan Sang Tokoh kisah menghendaki “ada pekerja untuk menatanya kembali”.
Tidak berusaha untuk berpikir jauh-jauh, mulailah itu pada kebun sendiri (bidang tugas masing-masing), bidang hidup dan pelayanan masing-masing. Jika melakukan sesuai misi Sang Tokoh maka kita sedang bekerja di kebun anggur-Nya. Kita menata dan menuai untuk Sang Tokoh.
Singkat kata, singkat cerita Kebun Anggur adalah lahan karya besar Sang Tokoh kisah untuk keselamatan. Dunia adalah kebun anggur itu dan kita diminta untuk turut ambil bagian dalam misi Sang Tokoh kisah. Kata-kata seorang yang digelari suci, Teresa dari Avila, bahwa “Sekarang Sang Tokoh kisah tidak mempunyai mulut, mata, telinga, tangan, dan kaki selain kita.” Ia menempatkan misi pemberitaan dan penyembuhan dalam tanggung jawab kita dan membantu kita untuk melanjutkannya.
Cara paling efektif untuk menjalankan misi Sang Tokoh kisah adalah dengan menjalani kehidupan nyata kita sebagai pelaku Firman yang transparan, yang memancarkan kasih, belas kasihan, dan pengampunan. Ingat penegasan ini, “Seseorang tidak dapat membebaskan orang lain selama masih terbelenggu dalam ikatan egoisme dan individualisme, dan dalam kasih Allah ia dapat menghidupkan Firman Kehidupan di tempat di mana tidak akan kemungkinan hidup Kasih Allah”.
Marilah kita terlebih dahulu alami pembebasan kita dari belenggu si jahat yang membuat kita bisu dan tuli sampai tidak bisa menghayati Firman Kehidupan dan bersedia mewartakan kasih kepada mereka yang “berkebutuhan khusus”, dalam hal ini kelompok manusia Carpe Dimemis. Bawalah mereka kepada keselamatan adalah hadiah tuaian yang paling mulia bagi Sang Tokoh kisah. Mudah-mudahan.* (Penulis: Katekis Paroki).