WhatsApp Facebook Google+ Twitter BBM

Busana Adat Rote Menjadi Jembatan Persaudaraan di Panggung Nasional APEKSI 2026

Metronttdewa.com 05-07-2026 || 21:52:19

Wali Kota Kupang, dr. Christian Widod,.kenqkqn topi ti'i langga kepada Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, Ketua APEKSI sekaligus Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, serta Wali Kota Medan selaku tuan rumah

Metronewsntt.com, ​Medan – Meski rintik hujan membasahi Kota Medan pada Kamis (4/7/2026) malam, semangat kontingen Kota Kupang tetap menyala dalam kemeriahan Karnaval Budaya Nusantara di ajang Rakernas XVIII APEKSI 2026. Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, tampil memukau saat memimpin rombongan dengan balutan busana adat lengkap etnis Rote, membawa identitas dan kebanggaan Nusa Tenggara Timur ke panggung nasional.

​Di bawah sorotan lampu karnaval, barisan kontingen Kota Kupang mencuri perhatian ribuan pasang mata. Kehadiran maskot Sepe, ikon khas Kota Kupang, menjadi magnet utama yang memimpin iring-iringan di sepanjang rute karnaval. Langkah dr. Christian yang didampingi Sekretaris Daerah, Jeffry E. Pelt, serta jajaran pejabat Pemkot Kupang, menegaskan komitmen daerah dalam memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada delegasi dari seluruh Indonesia.

​Saat melintas di podium utama, dr. Christian memanfaatkan momentum tersebut untuk menjalin kedekatan melalui pertukaran simbol budaya. Ia menyerahkan cendera mata berupa topi Ti'i Langga khas Rote kepada Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, Ketua APEKSI sekaligus Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, serta Wali Kota Medan selaku tuan rumah. Tak hanya itu, kain tenun khas Rote yang cantik juga dihadiahkan kepada istri Wali Kota Medan dan Ketua APEKSI sebagai simbol persahabatan.

​Bagi dr. Christian, pilihan menampilkan budaya Rote bukan tanpa alasan. Ia menekankan bahwa Kota Kupang adalah rumah bagi keberagaman, di mana berbagai etnis hidup berdampingan dalam semangat persaudaraan. Ia memandang budaya sebagai modal strategis untuk memperkuat daya saing daerah. Di kota yang bertumpu pada sektor jasa, identitas budaya menjadi daya tarik unik yang mampu menghadirkan pengalaman berbeda bagi wisatawan sekaligus memperkuat citra kota.

​Komitmen tersebut telah dibuktikan melalui kesuksesan Karnaval Budaya pada HUT ke-140 Kota Kupang baru-baru ini, di mana seluruh etnis di Kupang dilibatkan dalam satu panggung kebersamaan. Melihat antusiasme yang luar biasa, Pemerintah Kota Kupang berkomitmen menjadikan karnaval tersebut sebagai agenda tahunan sebagai ruang promosi sekaligus pemersatu warga.

​Kehadiran Kota Kupang dalam rangkaian Rakernas XVIII APEKSI yang mengusung tema "Kota Tangguh, Bangsa Berdaulat" ini turut menjadi bagian dari perjuangan daerah. Rakernas ini telah menghasilkan 10 rekomendasi strategis bagi pemerintah pusat, termasuk penguatan kapasitas fiskal daerah, percepatan pembangunan infrastruktur, hingga usulan pembiayaan gaji PPPK melalui APBN.

​Langkah Wali Kota Christian Widodo dalam mempromosikan budaya daerah ini mendapat apresiasi hangat, terutama dari diaspora NTT di Medan. Dr. Adolfina Elisabeth Koamesakh, Ketua Pasca Sarjana Sekolah Tinggi St. Paul Simalingkar Medan, bahkan mengungkapkan rasa bangganya melalui media sosial dengan ungkapan, "To'o huk abunae. Malole ta malole, Kota Kupang le malole." Sebuah apresiasi yang menjadi bukti bahwa di balik agenda birokrasi, ikatan budaya mampu menjadi jembatan yang menghubungkan semangat persatuan antar-kota di Indonesia.(mnt)


Baca juga :

Related Post