WhatsApp Facebook Google+ Twitter BBM

Siraman Rohani: Menjaga Nama

Metronttdewa.com 27-06-2026 || 11:07:38

Al Hayon

Metronewsntt.com---Nama dan pemberian nama kepada seseorang dalam beberapa tradisi sepertinya mengacu pada formula khusus, dan aturan  tertentu. Seperti misal dalam budaya yudais pemberian nama setidak-tidaknya bertalian dengan garis keturunan dari ayah atau ibu. Atau ada talian keluarga entah berdasar klan-suku atau mengambil nama dari orang tua atau leluhur (sesuai asal muasal turunan). 

Beberapa suku atau klan di tanah air pemberian nama kepada seseorang -misalnya seorang anak- mengikuti budaya atau seturut aturan klan dan suku masing-masing. Ada yang melakukannya secara bebas tanpa ikatan atau aturan tertentu dan dibagian lain suku-suku di tanah air kita, pemberian nama harus mengkuti aturan atau harus sesuai dengan formula yang diwaris-turunkan. Pada kehidupan sosial religius beda lagi. Aturan dan warisan yang diterapkan berkaitan dengan pemberian nama mengandung harapan, punya makna dan nilai historis.

Ada yang luar biasa, seperti yang dikisahkan dalam bible,  bahwa pemberian nama terjadi di luar dugaan. Tidak menuruti formula atau aturan yang diwaris-turunkan. Seperti pada kisah tentang Imam Zakharia dan Elisabeth. Nama yang diberikan kepada anak mereka tidak tunduk kepada aturan, tradisi dan formula tertentu. Tuhan yang memberi langsung “nama” kepada anak mereka. Luar biasa sekali.

Sejenak menengok kepada kisah injil Lukas 1: 63-64: "Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: "Namanya adalah Yohanes." Dan mereka pun heran semuanya. Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah." Jadi nama “Yohanes” yang dikenakan Zakharia kepada anaknya seturut pesan Tuhan baginya dalam suatu penglihatan. Bukan karena formula atu tradisi terwaris. Demikianlah nama “Yohanes” itu ajaib. Sudah pasti.

Harapan dan makna tersurat dan tersirat adalah dengan nama Yohanes itu, telah membuktikan bahwa seluruh HIDUP, KARYA dan   KEHIDUPAN Zakharia dan Elisabeth menunjukkan ketakwaan kepada Tuhan dan diberkati oleh Tuhan sendiri. Blesing itu boleh terjadi karena Zakaria ayah Yohanes taat pada yang diperintahkan Allah kepadanya dan kepasrahan Elisabeth pada realita hidup yang dianugerahkan Allah. 

Kilas balik kisah bahwa peristiwa Zakharia menjadi bisu karena tidak percaya akan berita dari malaikat bahwa istrinya yang sudah tua akan mengandung dan melahirkan seorang anak. Laki-laki lagi. Karena tidak percaya ia diberi sanksi, bisu. Namun saat anak disunat dan diberi nama Yohanes sesuai pesan Allah lewat malaikat, bisunya lenyap. Ini berkat bagi Zakaria yang taat. 

Sehubungan dengan “nama” yang diberi oleh Tuhan menunjukkan dan melukiskan suatu “realitas nanti” bahwa kehidupan ke depan seseorang ada dalam kendali dan rencana Tuhan. Dari nama itu, segala perangai si pemakai adalah gambaran dan tanda hadirnya Allah. 

Dengan demikian nama adalah “tanda dan penanda”. Nomen est signum et significans". Tanda bahwa Allah itu hidup dan berkarya dalam diri pemakai nama itu. Allah itu baik dan mulia yang bersemayam dalam diriku (seseorang) dan “nama”-ku adalah penunjuk arah kepada Yang Mulia, yakni Tuhan Allah.

 Kepada-Nya kita semua menyembah. Nama adalah simbol atau yang menunjukkan diriku adalah Imago Dei (Gambaran Allah). Harus dirawat-jaga. Tidak menodai dan dinodai. “Nama” itu harus dijaga dan diarahkan kepada yang baik dan yang mulia. “Nama” yang dikenakan itu mulia dan baik, harus ada upaya untuk mengharum-wangikan “nama” itu.

Mari kita belajar menghormati “nama” yang kita sandang, belajar menjadi taat pada apa yang dikehendaki Allah agar hidup kita diberkati dan berkat Tuhan akan hadir secara istimewa bagi pengenaan NAMA itu, baik kepada diri kita, anak-anak dan cucu-cucu  kita. Pada apa dan siapapun. 

Dengan mengenakan dan menggunakan “nama” itu seperti Nama Yohanes, pribadi itu menjadi berkat bagi orang lain, bagi dunia karena memperkenalkan Tuhan Yesus Kristus kepada dunia dan mendatangkan selamat bagi yang menyapanya dan diri pemakainya. (Penulis: Katekis Paroki).


Baca juga :

Related Post