Wakil Walikota Kupang, Serena Francis
Metronewsntt.com, Kupang – Kabar gembira menyelimuti warga Kota Kupang, khususnya bagi mereka yang mendambakan hunian layak. Berkat diplomasi aktif dan lobi ke pemerintah pusat, kuota Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) untuk Kota Kupang melonjak drastis dari semula hanya 100 unit menjadi 500 unit pada Tahun Anggaran 2026.
Momentum penting yang menjadi "kado manis" bagi masyarakat ini ditandai dengan pembukaan sosialisasi tingkat kota yang dipimpin langsung oleh Wakil Wali Kota Kupang, Serena C. Francis, di Kantor Camat Alak, Rabu (13/5/2026).
Dalam sambutannya, Serena Francis mengungkapkan bahwa keberhasilan penambahan kuota ini merupakan buah dari upaya jemput bola yang dilakukan jajaran Pemerintah Kota Kupang.
Ia menceritakan bagaimana ia bersama jajaran Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (PRKP) melakukan audiensi langsung untuk meyakinkan Kementerian terkait demi kepentingan masyarakat berpenghasilan rendah. “Bulan lalu kami bertemu langsung dengan Pak Menteri. Awalnya Kota Kupang hanya dapat 100 unit, tetapi setelah konsultasi dan audiensi, kita mendapat tambahan menjadi total 500 rumah untuk masyarakat Kota Kupang,” ungkap Serena yang langsung disambut tepuk tangan antusias warga.
Bagi Serena, bantuan ini bukan sekadar urusan perbaikan fisik bangunan, melainkan bentuk nyata kehadiran negara dalam meningkatkan kualitas hidup rakyatnya. Ia menegaskan bahwa rumah yang sehat adalah investasi jangka panjang bagi masa depan generasi Kupang. “Rumah bukan sekadar tempat tinggal, tetapi fondasi kehidupan keluarga. Rumah yang layak akan melahirkan lingkungan yang sehat, aman, dan nyaman bagi tumbuh kembang keluarga,” tegasnya di hadapan para peserta sosialisasi.
Selain membawa kabar peningkatan kuota, Serena juga menaruh perhatian pada fenomena warga yang sempat ragu atau mengundurkan diri karena salah memahami istilah "swadaya".
Ia meluruskan bahwa swadaya bukanlah beban yang dilepaskan sepenuhnya kepada masyarakat, melainkan upaya menghidupkan kembali roh gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa. “Ketika dengar kata swadaya, masyarakat langsung takut. Padahal maknanya adalah gotong royong, kerja bersama, saling membantu antar tetangga dan keluarga,” jelas Serena sembari meminta para lurah, RT, dan RW untuk gencar memberikan edukasi agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Balai Perumahan dan Kawasan Permukiman Nusra II, Soemin Kase, menjelaskan bahwa setiap penerima manfaat akan mendapatkan bantuan stimulan senilai Rp20 juta, yang dialokasikan sebesar Rp17,5 juta untuk material dan Rp2,5 juta untuk upah tukang.
Guna memastikan bantuan ini tepat sasaran dan transparan, pemerintah kini menggunakan aplikasi digital "Sibale". Melalui aplikasi ini, warga dapat mendaftarkan dan mengunggah foto kondisi rumah mereka secara mandiri, sehingga proses verifikasi data menjadi lebih akurat. Melalui sinergi teknologi dan semangat kebersamaan ini, Pemerintah Kota Kupang optimistis penanganan rumah tidak layak huni akan berjalan maksimal.(mnt)