WhatsApp Facebook Google+ Twitter BBM

Gagal Jadi Pusat Ekonomi, Pasar Penkase Alak Kini Merana

Metronttdewa.com 05-05-2026 || 19:29:04

Inilah potret pasar kosong tanpa pedagang saat dan potret pasar saat acara lounching oleh Wali Kota Kupang

Metronewsntt.com, Kupang- Kemeriahan peresmian Pasar Penkase Alak pada 3 Desember 2025 kini menyisakan tanda tanya besar bagi warga Kota Kupang. Pasar yang diresmikan oleh Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-23 Perumda Pasar Kota Kupang itu, dulu digadang-gadang sebagai pusat ekonomi baru dan ruang tumbuh bagi ekonomi kerakyatan. Namun, realita di lapangan kini menunjukkan pemandangan yang jauh berbeda.

​Acara peresmian kala itu berlangsung sangat meriah. Kehadiran para pejabat pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, tokoh masyarakat, mitra usaha, hingga para pedagang dan petugas kebersihan menjadi bukti betapa besarnya harapan masyarakat terhadap kehadiran pasar tersebut. Antusiasme warga begitu terasa karena fasilitas ini telah dinantikan sejak lama.

​Dalam sambutannya saat itu, Wali Kota menegaskan bahwa pembangunan pasar ini bukan sekadar urusan fisik, melainkan wujud nyata komitmen pemerintah dalam memberdayakan ekonomi rakyat. "Ini bukan hanya bangunan pasar. Di sini ada ruang rezeki, ruang harapan bagi keluarga di Alak. Teruslah berkarya dan bermanfaat. Mari kita jaga pasar ini sebagai ruang hidup bersama. Untuk pedagang, untuk pembeli, dan untuk masa depan ekonomi rakyat di Kota Kupang," ajak Wali Kota penuh optimisme kala itu.

​Namun, waktu seolah membuktikan bahwa harapan itu sulit dipertahankan. Seiring berjalannya waktu, pusat ekonomi baru tersebut justru meredup hingga nyaris mati. Ironisnya, dari sekian banyak pedagang yang diharapkan mengisi los pasar, kini hanya tersisa satu orang yang masih bertahan.

​Idha Rihi Nawa, salah satu pedagang di sana, mengungkapkan kepedihan melihat kondisi pasar yang kini kembali sepi. Menurutnya, pasar yang sempat dihidupkan kembali ini sekarang justru terancam mati total. "Kondisi pasar Penkase Alak yang dulu sudah mati dan kembali dihidupkan, kini kembali mati karena sudah tidak ada pedagang lagi. Ini apakah hanya sekadar mati suri atau memang sudah mati aktivitas pasarnya?" keluhnya saat dikonfirmasi media melalui telpon WahatsApp, Selasa (5/5/2026).

​Ia menegaskan bahwa kunci utama menghidupkan pasar ini ada pada ketegasan pemerintah. "Jika ingin pasar ini hidup, maka pemerintah harus mengambil langkah dengan menertibkan para pedagang sayur-mayur yang berjualan di tepi jalan untuk masuk ke pasar. Jika tidak, maka kondisi pasar ini akan kembali seperti dulu, hanya tinggal bangunan kosong," tambahnya.

​Idha juga mengungkapkan kekecewaannya atas kunjungan anggota DPRD beberapa waktu lalu yang menurutnya tidak memberikan hasil nyata. "Belum lama ada kunjungan para anggota DPRD ke lokasi pasar dan janji akan meminta pemerintah agar pasar ini difungsikan lagi, serta meminta pedagang yang berjualan di luar untuk masuk ke los pasar yang sudah dibangun. Namun, kenyataan hingga kini belum juga terealisasi. Jadi, ini ibarat seperti janji manis saja," ungkapnya dengan nada kecewa.

​Kondisi memprihatinkan ini turut memantik kritik keras dari legislator Perindo, Benny Selan. Saat meninjau lokasi beberapa waktu lalu, ia mengaku kecewa melihat pasar yang seharusnya menjadi pusat ekonomi baru justru kini lengang. 

"Kondisi pasar yang disebut pusat ekonomi baru itu sudah redup. Saat saya turun ke lokasi melihat hanya tinggal satu orang pedagang saja, hal ini tentunya perlu menjadi perhatian pemerintah kota melalui Perumda Pasar," tegasnya.

​Benny menilai bahwa kondisi ini menunjukkan adanya ketidakmampuan Perumda Pasar dalam mengelola pasar rakyat secara profesional. Meski mengakui ada kendala teknis seperti posisi lokasi dan minimnya sarana pendukung, ia menekankan bahwa pemerintah tidak boleh lepas tangan. Ia pun memberikan usulan agar pasar tersebut kembali bergairah. 

"Ya coba dibuatlah iven atau pasar murah di lokasi itu biar dapat menarik peminat untuk menghidupkan pasar itu lagi," tandas Anggota Komisi II DPRD Kota Kupang tersebut. Harapan kini tertuju pada Pemerintah Kota Kupang; mampukah mereka mewujudkan visi "ruang hidup bersama" yang dulu dijanjikan, ataukah pasar ini akan terus terpuruk menjadi sekadar monumen gedung kosong?.(mnt)


Baca juga :

Related Post