WhatsApp Facebook Google+ Twitter BBM

Darurat Pasar Alak! DPRD Desak Wali Kota Kupang Bertindak Sebelum Ruang Harapan Rakyat Benar-benar Padam

Metronttdewa.com 20-04-2026 || 12:27:52

Kondisi pasar Alak

Metronewsntt.com, Kupang– Janji manis Wali Kota Kupang, Christian Widodo, saat meresmikan Pasar Alak pada 3 Desember lalu kini terasa hambar bagi para pedagang. Alih-alih menjadi "kado istimewa" dan pusat ekonomi baru, pasar tersebut kini berada di ambang kehancuran. Sunyi, senyap, dan nyaris mati. Kondisi memprihatinkan ini terlihat dari aktivitas pasar yang kini hanya menyisakan dua orang pedagang saja yang masih bertahan.

​Salah satu pedagang, Idha Rihi Nawa, mencurahkan kepedihannya pada Minggu (19/4/2026). Ia mengaku telah merogoh kocek hingga Rp18 juta untuk membangun lapak dan kios, sebuah investasi besar yang kini tak membuahkan hasil karena ketiadaan pembeli. "Saya tidak punya pilihan selain bertahan, meski rugi. Saya mau menangis saja lihat dua pedagang itu, pagi-pagi pikul barang dagangan tapi tidak ada satu pun pengunjung yang datang," ungkap Idha dengan nada getir.

​Penyebab utama "mati surinya" pasar ini adalah menjamurnya pedagang di sepanjang jalan Alak, terutama di depan kawasan Angkatan Laut, yang membuat warga enggan masuk ke dalam pasar resmi. Idha pun menagih janji Wali Kota Christian Widodo yang sebelumnya sesumbar akan menertibkan para pedagang pinggir jalan tersebut. Baginya, janji itu kini terasa seperti sekadar bualan masa kampanye yang manis di mulut namun pahit dalam realitas.

​Kekecewaan pedagang semakin memuncak karena sikap pasif PD Pasar. Sebagai pengelola, mereka dianggap menutup mata terhadap kondisi di lapangan. Meski keluhan dan bukti video kondisi pasar telah dikirimkan berulang kali ke grup koordinasi yang juga diikuti oleh Dirut PD Pasar, Ganda Tallo, namun semua laporan itu tak kunjung digubris. Pedagang merasa ditinggalkan sendiri tanpa perhatian sama sekali dari pihak berwenang.

​Kondisi kritis ini memantik reaksi keras dari Anggota DPRD Kota Kupang, Yafet Horo. Ia mendesak agar pemerintah kota tidak membiarkan bangunan yang dibangun dengan uang rakyat ini menjadi sia-sia. Yafet menuntut aksi nyata dari Wali Kota untuk segera menertibkan pedagang liar agar ekosistem di dalam pasar kembali hidup. Ia menegaskan bahwa nasib pedagang yang jujur tidak boleh dikorbankan akibat lemahnya pengawasan.

​Sangat kontras dengan kondisi saat ini, Wali Kota Christian Widodo pada saat peresmian sempat menyebut pasar ini sebagai "ruang rezeki dan harapan" bagi keluarga di Alak. Namun kini, harapan itu justru berubah menjadi sumber kerugian besar. Jika pemerintah tidak segera mengambil tindakan tegas untuk meramaikan kembali pasar, maka pusat ekonomi yang diharapkan tumbuh tersebut akan benar-benar mati sebelum sempat berkembang.(mnt)


Baca juga :

Related Post