Suasana kegiatan wokshop yang berlangsung di OCD Beach Cafe, tepat di Pantai Lasiana, dengan diikuti kurang lebih 10 peserta dari berbagai media massa, baik cetak maupun daring (online).
Metronewsntt.com, Kupang---Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menggandeng Media Parboaboa.com menggelar Workshop Jurnalisme Feature. Kegiatan ini berlangsung di OCD Beach Cafe, tepat di Pantai Lasiana, dengan diikuti kurang lebih 10 peserta dari berbagai media massa, baik cetak maupun daring (online).
Workshop Jurnalisme Feature ini lebih terfokus pada Teknik Menulis Features yang telah digelar mulai tanggal 26 hingga 28 Februari 2026. Kegiatan ini dipandu oleh pemateri yang merupakan Pemimpin Redaksi (Pemred) Media Parboaboa.com sekaligus pengurus AJI Pusat, Hasudungan P. Sirait.
Dalam kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini, para peserta mendapatkan berbagai materi. Pada hari pertama, pemateri menyajikan materi soal Standar Jurnalisme dan Mengatasi Kesulitan Menulis. Hari kedua berfokus pada Teknik Menulis Features, dan pada hari ketiga para peserta mendapatkan materi mengenai Penataan Bahasa Jurnalisme, Merancang TOR Liputan, serta Pitching Ide Liputan.
Sirait, sapaan akrabnya, dalam materinya mengatakan bahwa kunci utama dalam menulis feature adalah riset data.
"Riset data dan teknik wawancara masih merupakan bagian dari Standar Jurnalisme. Ilmu ini sungguh dibutuhkan oleh setiap penulis perkisahan (storytelling)," katanya.
Ia menjelaskan bahwa dalam menulis profil dan buku biografi, hal yang mesti digali adalah tiga dimensi yang menjadi unsur pembangun karakter, yaitu: fisiologi (sosok lahiriah); sosiologi (jenis kelamin, usia, latar diri, keluarga, pendidikan, pekerjaan, tempat dibesarkan, lingkup pergaulan, penghasilan, dll); serta psikologi (kebiasaan, perangai, sifat, dan lain-lain).
Menurut pengalaman Sirait selama 30 tahun lebih mengajar di kelas menulis, kendala utama bagi orang Indonesia saat menuangkan isi pikiran menjadi teks adalah beban pikiran yang seketika memberat. Beban itu muncul dari kedalaman "sumur ingatan" akibat larangan yang bertumpuk di benak.
"Kalau saja pantangan itu kita persetankan, menulis akan lebih mudah dan mengasyikkan. Itu bakal segera dipraktikkan para peserta: jurnalis Kupang yang telah terbiasa mengerjakan program fellowship," tutupnya. (mnt)