Area persawahan Beludale yang terdampak leleringan
Metronewsntt.com, Oelamasi--Kekeringan kembali melanda lahan pertanian di Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, dengan dampak yang signifikan pada musim tanam kedua (MT II) 2025. Sebanyak 36 hektar lahan pertanian milik petani terdampak kekeringan, menyebabkan tanaman padi mengalami gagal panen.
Kondisi ini membuat para petani menjerit karena tanaman padi yang menjadi andalan mereka dalam memenuhi kebutuhan cadangan pangan bagi mereka tidak mendapatkan pertumbuhan yang semestinya. Ketersediaan air yang menipis membuat usaha petani mengairi lahan menjadi sia-sia.
Ketua Kelompok Eden Kelurahan Naibonat, Boy Tuka, Kamis (11/9/2025) yang ditemui diarea persawahan Beludale Kelurahan Naibonat menyatakan bahwa kekeringan telah berlangsung selama sebulan, menyebabkan banyak lahan pertanian kering dengan kondisi tanaman padi menguning dan layu yang tumbuh di tanah yang terrbelah seakan-akan mengharapkan setetes air membasahi lahan itu. Upaya petani untuk mengairi lahan menjadi sia-sia karena ketersediaan air yang menipis.
Boy Tuka berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian bagi kelompok tani di Kelurahan Naibonat agar lahan yang mengalami kekeringan bisa teratasi. "Kami berharap adanya bantuan pompa air yang bisa dipinjamkan untuk mengatasi kekeringan ini," harapnya.
Dampak kekeringan ini tidak hanya dirasakan oleh petani di Kelurahan Naibonat, tetapi juga di beberapa wilayah lain di Kecamatan Kupang Timur, termasuk Kelurahan Oesao. Wilayah yang mengalami gagal panen tersebut rata-rata masuk di kawasan tadah hujan.
Kekeringan ini menyebabkan kerugian finansial dan ancaman terhadap mata pencaharian petani. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk mengatasi kekeringan ini dan membantu petani dalam menghadapi kesulitan ini.(mnt)